Tampilkan postingan dengan label Review Komputer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Komputer. Tampilkan semua postingan
Tipis, kecil, dan ringan. Itulah keutamaan notebook Sony VAIO seri X ini. Dengan ketebalan 13,9 mm dan lebar layar 11 inci, laptop ini mengawali konsep bisnis baru Sony, yang kini menggunakan tag line baru: make.believe (make dot believe).

Seri X merupakan seri terbaru dari mobile PC buatan produsen asal Jepang tersebut pada tahun ini. Sebagaimana pada dua seri sebelumnya, VAIO U dan VAIO P, Sony membuat seri anyar ini untuk pengguna yang memerlukan mobilitas dan desain elegan pada sebuah perangkat jinjing. Dibanding laptop tipis pesaingnya, laptop dengan empat pilihan warna ini merupakan komputer jinjing paling ringan, dengan bobot hanya 655 gram.

Konektivitas yang terpasang di dalamnya meliputi konektor WiFi dan Bluetooth. Untuk menyesuaikan dengan perangkat digital lain buatan Sony, laptop ini juga menyertakan slot pembaca kartu memori Memory Stick Duo, di samping pembaca kartu memori jenis SD sebagai standar laptop masa kini.

Karena dibuat untuk keperluan mobile, laptop berprosesor Intel Atom Z540 ini menggunakan teknologi baterai berdaya tahan lama. Dua model pada seri ini masing-masing memiliki baterai dengan durasi hidup 3,5 jam dan 7,5 jam. Tersedia baterai optional yang dapat mendongkrak daya tahannya menjadi 16 jam.

Selain meluncurkan seri X, Sony juga memperkenalkan tiga model seri CW dengan layar 14 inci. Komputer kompak dengan desain warna-warni (hitam, putih, merah muda, dan merah) ini memiliki keunggulan berupa spesifikasi teknis yang mampu mendukung kebutuhan bermain game tingkat tinggi. Prosesor Intel Centrino Core Duo T6600 2.20 GHz dan P8700 2.53 GHz di dalamnya bersinergi dengan kartu grafis NVIDIA Ge Force G210M maupun G230M.

Dibundel dengan sistem operasi Windows 7 Home Premium 64 bit, komputer dengan lebar penampang hampir sama dengan kertas ukuran folio ini menawarkan memori sebesar 4 GB dan harddisk drive SATA berkapasitas mulai 250 GB. Seri ini, dan juga seri X, dilengkapi aplikasi multimedia Media Gallery yang mudah diakses melalui tombol pintas pada kibor.

Untuk sementara, semua seri tersebut belum tersedia di pasar tanah air. Sony baru mulai memasarkannya mulai 30 Oktober 2009. Seri X dibanderol dengan harga 1.299 dollar AS dan 1.399 dollar AS, sementara seri CW dilabeli dengan harga mulai 899 dollar AS hingga 1.299 dollar AS.
Baca Selengkapnya......
Setelah menguji sekian banyak netbook, saya sampai pada kesimpulan kalau harga netbook tidak akan jauh berkisar di angka Rp. 4 jutaan. Dengan komponen yang mirip-mirip, faktor yang membedakan antar netbook paling-paling cuma kapasitas harddisk, kapasitas baterai, dan kelengkapan fasilitas pendukung.

Namun ternyata saya salah. Adalah Byon Chameleon seri N610 XPGA-A yang menggugurkan teori di atas. Dibandrol di angka Rp. 3,8 juta, netbook ini adalah yang termurah dari semua netbook yang ada di pasaran saat ini.

Mungkin karena harddisknya kecil? Tidak juga. Kapasitas harddisk Byon setara dengan netbook lain, yaitu 160GB. Kapasitas baterainya pun 4400 mAh, justru lebih besar dibanding beberapa netbook yang cuma 3600 mAh.

Fasilitas standar netbook pun tetap ada, mulai dari Wi-Fi, Ethernet, Webcam, dan card reader. Bahkan netbook ini memberikan fasilitas lebih dibanding netbook standar, seperti Bluetooth dan modem dial-up. Oke, modem dial-up mungkin jarang yang menggunakan, namun Bluetooth pasti banyak yang butuh untuk bertukar data dengan ponsel dan perangkat ber-Bluetooth lainnya.

Netbook dengan layar 10,2” ini juga sudah dilengkapi dengan sistem operasi Windows XP Home Edition. Sebagai aplikasi pendukung, Byon menyertakan antivirus Kaspersky dan Microsoft Works. Yang terakhir adalah versi sederhana dari Microsoft Office, yang terdiri dari aplikasi penyunting dokumen, database, spreadsheet, kalender, dan kamus. Namun jika Anda ingin menggunakan sistem operasi alternatif, di dalam CD Driver Byon Chameleon terdapat FOS Recovery. OS berbasis Linux ini bisa booting via USB flash disk, sehingga Anda tetap memiliki alternatif meski tidak memiliki perangkat optik eksternal.

Performa Chameleon bagus. Mengandalkan prosesor Intel Atom N270 dan memori 2 GB DDR2-667MHz, netbook ini memiliki kemampuan sedikit lebih baik dibanding Zyrex Bee 103G. Hal lain yang penting dicatat adalah daya tahan dalam mode baterai yang mencapai 3,5 jam saat memutar video HD 720p.

Byon Chameleon hadir dalam casing warna hitam glossy yang belakangan kian ngetren itu. Desainnya sedikit meninggi di sisi belakang untuk mengakomodasi ukuran baterai yang cukup besar.

Ketika dicoba mengetik, InfoKomputer tidak merasakan kesulitan berarti. Ukuran setiap tombol terasa pas, begitu pula dengan tolakan ketika ditekan. Satu hal yang sedikit mengganggu adalah tombol Shift di sisi kiri yang agak kecil sehingga sempat membuat kagok. Namun setelah terbiasa, masalah tersebut tidak lagi terasa mengganggu.
***

Biasanya InfoKomputer bisa mencari kelemahan dari sebuah netbook berharga murah, namun tidak untuk Byon Chameleon N610 XPGA-A. Netbook ini memberikan kombinasi harga, performa, dan fasilitas yang paling pas saat ini. Bahkan jika Anda ingin sedikit lebih irit, tersedia Byon Chameleon dalam versi memori 1GB dengan harga Rp. 100 ribu lebih murah. Jadi Byon Chameleon adalah netbook terbaik yang bisa Anda pilih saat ini. Tidak heran jika InfoKomputer menyematkan penghargaan Platinum ke netbook ini.

Sumber: InfoKomputer


PLUS: Harga kompetitif; ada Bluetooth dan modem dial-up; daya tahan baterai lama

MINUS: Tombol Shift relatif kecil; bobot 1,3 kg.

SKOR PENILAIAN
(maksimal 5)
Kinerja : 4,7
Fasilitas : 4,6
Penggunaan : 4,4
Harga : 4,6
SKOR TOTAL : 4,6

Hasil Pengujian
Karena menggunakan kapasitas memori lebih besar, performa Byon Chameleon N610 XPGA-A terlihat sedikit lebih baik dibanding Zyrex Bee 103G. Namun yang paling layak digarisbawahi adalah daya tahan dalam mode baterai yang mencapai 3,5 jam.

Uji

BYON Chameleon N610 XPGA-A

(Intel Atom N270, RAM 2GB, Intel GMA950, 10,2”, baterai 4400mAh, Win XP Home Edition)

Zyrex Bee 103G

(Intel Atom N270, RAM 1GB, Intel GMA950, 10”, baterai 3600 mAh, Win XP Home)
Kinerja
Cinebench R10

847

837
Encoding Video

57 menit 10 detik

57 menit 17 detik
Encoding Audio

13 menit 54 detik

14 menit 7 detik
3DMark 2006

89

82
Daya Tahan Batere
Memutar HD Video

3 jam 30 menit

3 jam 2 menit
Battery Eater 05

3 jam 10 menit

2 jam 59 menit



SPESIFIKASI Byon Chameleon
Prosesor: Intel Atom N270 1,60GHz (Cache L2 512KB, FSB 1333MHz )
RAM: DDR2 2GB
Chipset: Intel Calistoga-GME i945GME
Kartu Grafis: Intel GMA 950
Harddisk: Seagate 160GB
Optical drive:Tidak Ada
Fasilitas: LAN, Wi-Fi 802.11 a/g, Bluetooth, card reader, 3 USB, kamera Web 1,3MP, port VGA, modem, jack mike, jack headphone
Layar: 10,2”, 102x768 pixel
Kartu suara: Realtek HD Audio output
Sistem Operasi: Windows XP Home Edition
Batere: 4400 mAh dan 48,84 Wh
Dimensi: 25x18,2x (2,5 – 4,7) cm
Bobot: 1,33kg (1,66kg + kabel adapter)
Garansi: 1 tahun
Situs Web: www.byon.co.id
Harga kisaran*: Rp. 3,69 juta


Baca Selengkapnya......
Konsep all-in-one PC (atau komputer yang komponennya menyatu di belakang layar) memang bukan sesuatu yang baru. Jika iseng membuka InfoKomputer edisi lama, Anda akan menemukan pengujian kami terhadap all-in-one PC seperti Apple iMac dan NEC Versa 5000. Namun dari semua PC tersebut, HP Touchsmart IQ500 mungkin adalah yang terkeren. Bukan saja karena dilengkapi fasilitas yang komplit (seperti WiFi, TV Tuner, dan card reader), namun juga karena perangkat ini mendukung layar sentuh. Jadi alih-alih menggunakan keyboard dan mouse untuk mengoperasikan perangkat ini, kita tinggal gerakkan jari di atas layar berukuran 22 inci-nya.

Untuk mendukung fungsi layar sentuh tersebut, HP menyertakan aplikasi khusus bernama MediaSmart. Ini pada dasarnya adalah software yang berjalan di atas sistem operasi Windows Vista, berfungsi sebagai antarmuka yang memudahkan kita menggunakan Touchsmart. Tinggal tekan tombol bergambar rumah, aplikasi ini akan terbuka dan mengisi seluruh layar. Dari sini, kita tinggal geser ke kiri dan kanan untuk mencari aplikasi yang ingin kita jalankan.

Ketika dicoba, MediaSmart memang terasa menyenangkan. Dengan menggeser jari ke kiri/kanan, kumpulan aplikasi yang tersusun di atas area seperti pita tersebut akan menggeser dengan gerakan yang dinamis. Setiap aplikasi juga diwakili icon berukuran besar, sehingga memudahkan kita memilih aplikasi yang ingin kita jalankan.

MediaSmart memuat beragam aplikasi, mulai dari pemutar audio/video, perpustakaan gambar, internet browser, notes, todo, dan game. Sebagian besar aplikasi (seperti pemutar audio/video, perpustakaan gambar, dan notes) adalah aplikasi yang menyatu di dalam MediaSmart. Artinya ketika dijalankan, aplikasi tersebut memiliki menu dengan tombol-tombol berukuran besar sehingga mudah digunakan layaknya MediaSmart. Namun untuk beberapa aplikasi, icon di MediaSmart lebih berupa shortcut. Contohnya ketika Anda mengklik icon di browser, MediaSmart menutup dan keluar jendela Internet Explorer.

Nah, di sinilah menurut kami tantangan terbesar menggunakan Touchsmart. Pasalnya penggunaan layar sentuh di luar MediaSmart tidaklah begitu nyaman. Sensor sentuhnya terasa kurang presisi dalam menangkap gerakan tangan, sehingga agak sulit untuk memilih area berukuran kecil. Ini kami rasakan saat mencoba browsing internet dan memilih sebuah link. Kami harus menekan berkali-kali area di sekitar link, baru link tersebut terpilih.

Namun jangan khawatir, Touchsmart tetap menyediakan keyboard dan mouse jika Anda lebih memilih cara “konvensional”. Keyboard dan mouse tersebut berbasis Bluetooth, dan tersedia pula remote control berbasis infra merah. Jadi Anda bisa mengoperasikan komputer ini dari sofa Anda yang empuk. Touchsmart juga termasuk perangkat golongan “satu kabel” seperti NEC Powermate 5000, yang maksudnya cuma butuh satu kabel (kabel power) untuk bisa beroperasi.

Sayangnya karena terlalu singkatnya waktu pengujian, kami tidak berkesempatan menguji secara menyeluruh performa Touchsmart IQ500 ini. Namun dari pengalaman kami menggunakannya beberapa saat, penggunaan Touchsmart IQ500 terasa responsif, termasuk pada mode sentuh (yang membutuhkan kerja sistem yang cepat). Namun penggunaan kartu grafis nVidia GeForce 9300M GS (yang termasuk kelas entry-level), memang tidak memungkinkan Anda memainkan game kelas berat.

***

Menurut HP, Touchsmart IQ500 ditujukan sebagai komputer keluarga yang bisa digunakan untuk seluruh anggota keluarga, termasuk orang tua dan anak-anak yang belum mahir benar mengoperasikan komputer. Tujuan itu cukup berhasil; dengan catatan kita harus berada di dalam aplikasi MediaSmart. Di luar aplikasi tersebut, cukup sulit mengoperasikan layar sentuhnya. Untungnya aplikasi yang terintegrasi di MediaSmart cukup memadai, sehingga Anda dan keluarga mungkin lupa kalau sedang mengoperasikan sebuah komputer. (Wisnu Nugroho)

Spesifikasi HP Touchsmart IQ500

Prosesor

Intel T5850 (2,16 GHz, 2 MB L2 Cache, 667 MHz)

RAM

DDR2, 4GB (Maks. 4GB)

Chipset

GM965M Express

Kartu Grafis

nVidia GeForce 9300M GS

Kartu suara

Tidak menyebutkan

Harddisk

SATA, 500GB

Optical drive

DVD Writer

Fasilitas

WiFi b/g/n, Bluetooth, Inframerah, Gigabit Ethernet, SPDIF, TV Tuner (digital), FireWire, 5in1 card reader, USB (5x)

Layar

22 inci, 1680x1050 pixel

Sistem Operasi

Windows Vista Home Premium 64bit

Dimensi

53,5x44,2x8,4cm

Bobot

10,7 kg

Garansi

1 tahun

Situs Web

www.hp.com



Baca Selengkapnya......
Adalah Alpha 680, sub notebook pertama yang membenamkan sistem operasi Android besutan Google akhirnya diluncurkan. Sebelum laik luncur ke pasaran, Alpha 680 harus menghadapi serangkaian tes yang diadakan oleh Guangzhou Skytone Transmission Technology.

Alpha 680 menanamkan prosesor ARM 11 dengan clock speed 533 MHz 32 bit. Ditambah dengan SSD 1 GB yang dapat ditingkatkan hingga 4 GB. Namun demikian, tersedia juga opsi lainnya menggunakan memori DDR2 kapasitas 128 MB yang dapat ditingkatkan hingga 256 MB.

Dari segi ukuran, netbook Android mengadopsi ukuran yang kecil dengan layar TFT LCD berukuran 7-inci. Ukuran tersebut tentu saja hanya dapat berpadu dengan resolusi sebesar 800 x 480 piksel. Alpha 680 juga membekal berbagai fitur koneksi internet, seperti ADSL, WiFi, GPRS, CDMA, EDGE dan WCDMA.

Fitur lain yang dapat dijumpai pada Alpha 680 di antaranya adalah koneksi LAN sebesar 10/100 MB. Tidak ketinggalan media pendukung untuk transfer data yaitu dua buah port USB dan slot SD/MMC (mendukung SDHC). Menurut sumber berita yang kami lansir, notebook mini Android pertama ini bakal dilego seharga US$ 250 dan akan tersedia dalam warna putih, hitam, kuning, merah muda dan merah dalam waktu tiga bulan ke depan.
Baca Selengkapnya......

Toshiba Qosmio F50

On Minggu, April 12, 2009 0 komentar
Di tengah persaingan ketat seperti sekarang, para produsen notebook semakin serius membuat produk yang unik dan beda. Hal ini pun dilakukan Toshiba saat merilis notebook multimedia terbaru mereka, Qosmio F50. Notebook 15,4 inci ini tampil kemilau berkat desain Vibe dan penggunaan bahan plastik yang mengilap. Ini membuat penampilan Qosmio F50 terlihat sangat berkelas, meski sayangnya harus dikompensasi dengan mudahnya jejak jari tertinggal.



Namun yang paling unik dari Qosmio F50 ini adalah keberadaan sebuah prosesor yang disebut Quad Core HD Chip. Prosesor ini memiliki tugas khusus untuk membantu prosesor utama dalam menjalankan beberapa aplikasi multimedia. Contohnya melakukan upscaling (menaikkan resolusi) sehingga film berformat DVD bisa ditampilkan dengan kualitas sekelas film High Definition. Prosesor ini juga bisa digunakan untuk aplikasi gesture control; maksudnya kita bisa mengontrol notebook ini dengan gerakan tangan saja.



Sayangnya, konsep yang di atas kertas menarik itu, dalam kenyataannya tidaklah tampil sempurna. Ketika kami coba memutar film Batman: The Dark Knight, perbaikan kualitas yang dihasilkan tidaklah signifikan. Bahkan, di beberapa adegan, video yang ditampilkan justru terlihat pecah dan aneh.



Aplikasi gesture control juga tidak berjalan lancar. Teorinya, kita bisa melambaikan tangan untuk menjalankan video atau menegakkan telapak tangan (seperti memberi tanda stop) untuk melakukan pause. Namun ketika kami coba, gerakan tangan kami sering kali tidak tertangkap webcam. Jadi daripada repot, kami kembali ke cara lama: menggunakan panel control di atas keyboard atau memanfaatkan remote control yang sudah disediakan sebagai kelengkapan standar.



Quad Core HD Chip sendiri tidak banyak berperan pada aplikasi standar—dan memang tidak perlu. Kombinasi prosesor Intel Core 2 Duo T9400, memori 3GB, dan kartu grafis GeForce 9600GT sudah lebih dari cukup menjalankan aplikasi standar maupun gaming. Jika dibandingkan dengan semua notebook yang pernah kami uji, hanya Asus G50V dan yang bisa mengalahkan performa notebook ini. Namun performa yang garang itu harus dikompensasi dengan kebutuhan daya yang tinggi. Ini terlihat dari daya tahan baterenya saat memutar film HD yang cuma sekitar 1 jam.



Dari sisi fasilitas, notebook seharga US$ 2000 ini juga tampil sangat impresif. Selain konektor standar seperti USB dan FireWire, notebook ini juga dilengkapi koneksi eSATA dan HDMI. Sejalan dengan peruntukannya sebagai notebook multimedia, Qosmio F50 dilengkapi speaker dari pabrikan terkenal, harman/kardon. Tidak tanggung-tanggung, empat reflex speaker dan subwoofer ditanamkan di notebook ini, membuat kualitas suaranya begitu memukau. Boleh dibilang, inilah notebook dengan kualitas terbaik yang pernah kami uji.



Kalaupun ada keluhan adalah perangkat optiknya yang cuma DVD Writer—mungkin karena Toshiba pede prosesor Quad Core HD Chip akan membuat film kelas DVD akan di-upscale dengan sempurna.



***



Di atas kertas, keberadaan Quad Core HD Chip sebenarnya akan memberikan manfaat ekstra pada Qosmio F50 ini. Sayangnya, hal tersebut tidak berjalan sempurna, sehingga kami tidak merasakan manfaat dari prosesor tersebut—yang pastinya menambah harga notebook ini. Untungnya, performa dan fasilitas yang tertanam di notebook ini di atas rata-rata, sehingga sepadan dengan harganya yang mencapai US$ 2000. (Wisnu Nugroho)



Plus : Performa bagus; dilengkapi HDMI, eSATA, dan harddisk 400GB; kualitas speaker sempurna

Minus: Boros daya; mahal; cuma DVD Writer.



Skor Penilaian

Kinerja : 4

Fasilitas : 4,3

Penggunaan : 4,4

Harga : 3

Skor Total : 4



Hasil Pengujian

Dari semua notebook yang pernah kami uji, Qosmio F50 menempati urutan kedua di bawah Asus G50V. Saingan terdekatnya adalah BenQ S42-LE04 yang sebenarnya unggul pada pengujian berbasis grafis, namun tertinggal cukup jauh pada aplikasi berbasis prosesor. Sayangnya Qosmio F50 sangat boros listrik, sehingga hanya bisa bertahan sekitar 1 jam saat memutar HD video.

Pengujian

(OS: WinVista)


Toshiba Qosmio F50

(Intel T9400, memori 3GB DDR2-800MHz, VGA nVidia 9600M 512MB, 15,4 inci)


BenQ S42-LE04

(Intel P8400, memori 1GB DDR2-667MHz, VGA nVidia GF9600M GT 256MB, 14,1 inci)

Cinebench R10


5139


4648

PCMark Vantage


3253


2907

Encoding video


12 menit 53 detik


16 menit 9 detik

Encoding audio


2 menit 38 detik


3 menit 5 detik

3DMark 2006


4480


5619

Daya Tahan Batere







Memutar HD Video


1 jam 5 menit


1 jam 33 menit

Battery Eater


54 menit


1 jam 18 menit



Spesifikasi Toshiba Qosmio F50

Prosesor


Intel Core 2 Duo T9400 (2,53GHz, cache 6MB, FSB 1066MHz)

RAM


3GB DDR2-800

Chipset


Intel PM45

Kartu Grafis


nVidia GeForce 9600M GT 512MB

Harddisk


Fujitsu 400GB, SATA, 4200rpm

Optical drive


DVD Writer

Fasilitas


WiFi G, Bluetooth, FireWire, LAN, USB (3x), kamera, card reader, Express Card, HDMI, eSATA

Layar


15,1 inci, 1280x800 pixel

Kartu suara


Realtek ALC272

Sistem Operasi


Windows Vista Home Premium

Batere


4000 mAh

Dimensi


36,8x27,9x(4-5,4) cm

Bobot


3,32 kg

Garansi


1 tahun

Situs Web


www.toshiba-asia.com

Baca Selengkapnya......
Salah satu yang membuat industri komputer dituding sebagai penyebab rusaknya lingkungan adalah, pemakaian listrik dengan konsumsi yang sangat besar. Bahkan, dalam keadaan mati pun, komputer tetap menyerap listrik.

Demi mengatasi masalah tersebut, vendor Personal Computer (PC) Fujitsu Siemens berencana untuk meluncurkan desktop The Esprimo 7935, yang diklaim mampu dapat menggunaka listrik seirit mungkin. Pasalnya, jika selama ini PC biasa dalam posisi mati, tetap menyerap listrik antara 1 sampai 4 watt, maka tidak dengan produk keluaran.

"The Esperimo 7935 tidak memakai listrik hingga nol watt saat tidak digunakan, bahkan tanpa harus mencabut kabel kontak," ungkap Lothar Lechtenberg, juru bicara Fujitsu Seimens, seperti yang dilansir PC World (Senin 2/3/2009), saat pameran elektronik Cebit Trade Fair di Hanover, Jerman.

Mereka pun menjamin, kalau ini akan menguntungkan perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Karena bisa dibayangkan, jika sebelumnya dalam satu perusahaan dengan banyak PC, akan tetap terus membayar pengeluaran listrik, meski PC tersebut dalam kondisi tidak digunakan. Dan masalah tersebut akan diselesaikan.

"Perusahaan akan mampu menghemat pengeluaran hingga 89 persen. Karena The Esprimo 7935, menghadirkan sebuah solusi yang baru," sambung Lechtenberg

Baca Selengkapnya......
Seiring kemajuan zaman yang serba instan, telah lazim dijumpai adanya aneka komputer mungil dan mobile. Ini tercermin dari adanya notebook yang kini demikian populer yang juga diikuti oleh sistem barebone (PC mini). Barebone tidak lain adalah unit CPU yang mengalami penyusutan casing. Namun sebuah barebone tetap mengharuskan adanya monitor untuk menampilkan output atau aneka informasi lain. Nah, kini solusi paling gres telah muncul dalam bentuk sebuah monitor yang digabung dengan sebuah komputer seperti model Slim PC dari Sahitel ini.

Sepintas, Sahitel SP703 terlihat tidak lebih dari sekadar monitor LCD biasa. Namun, di balik panel LCD tersebut ternyata tersembunyi seperangkat PC lengkap yang terbungkus casing setebal 4,5cm.

Di dalam casing, tentu saja terdapat komponen PC dengan spesifikasi prosesor Dual Core T2370 1,73GHz, memori DDR2 2GB (dual-channel), serta harddisk IDE 120GB. Tidak lupa disertakan sebuah DVD-RW yang terletak di bagian samping.

Cukup pasangkan mouse dan keyboard, maka jadilah produk ini sebuah LCD PC yang amat praktis. Selain ringan (4,5kg), juga hemat ruang dan irit listrik (hanya membutuhkan sekitar 40 watt).

Sebagai displainya, SP703 menggunakan monitor LCD 17” plus speaker stereo terintegrasi di bagian depan. Kerennya, suara keluaran speaker ini lebih kuat dibandingkan suara dari notebook umumnya. Dalam hal konektivitas, SP703 juga melengkapi dirinya dengan koneksi LAN, 4 buah port USB, card reader 4-in-1 (SD/MMC, MemoryStick/Pro), port D-sub untuk monitor eksternal, dan port audio 3,5” layaknya pada PC. Dipikir-pikir, LCD PC ini jadi mirip dengan notebook juga.

Ditilik dari fitur, jelas Sahitel SP703 memiliki keunggulan dalam hal mobilitas (mudah dibawa pergi) serta hemat ruang dan daya. Anda pun dapat melakukan upgrade beberapa komponen seperti halnya PC, utamanya untuk CPU, memori, dan harddisk (dengan mengesampingkan faktor garansi tentunya).

Namun, PC mungil ini juga memiliki kelemahan, seperti sudut pandang LCD yang rendah (sehingga sulit dilihat bila mata pemakai tidak tegak lurus dengan layar). Fasilitas pengaturan displai juga amat minim karena hanya menyediakan perubahan level brigthness tanpa ada pilihan konfigurasi manual lebih lanjut.

***

InfoKomputer melakukan rangkaian uji pada unit ini meskipun Sahitel SP703 hanya dilengkapi dengan sistem DOS. Dengan sistem Windows Vista, Sahitel SP703 yang memakai Intel Dual Core 1,73GHz ini masih cukup nyaman digunakan meski kami sarankan Anda untuk memakai Windows XP. Skor rata-rata yang ditampilkannya membuat produk ini masih layak digunakan untuk aktivitas kerja dan Internet.

Karena chip grafis yang dipakainya kurang bertenaga, produk ini jelas tidak ditujukan untuk aktivitas gaming. Proses encoding audio sebenarnya juga kurang gegas meski hal ini tidak terlalu penting untuk sebuah PC mini.

Kalau Anda memang lebih mengutamakan aktivitas perkantoran dan Internet sekaligus mementingkan kepraktisan tempat, Sahitel SP703 merupakan salah satu PC yang kami rekomendasikan.

Sumber: InfoKomputer

PLUS: Fisik ramping; hemat daya; bobot ringan; koneksi cukup lengkap; LCD dan speaker terintegrasi; bisa di-upgrade.

MINUS: Displai kurang tajam; kinerja grafis lamban.
SKOR PENILAIAN
(maksimal 5)

Kinerja : 3,75

Fasilitas : 4,25
Penggunaan : 4,5
Harga : 3
SKOR TOTAL : 3,9
Hasil Pengujian

Kami membandingkan Sahitel SP703 dengan Nova Lite PX24 dengan Celeron 1,2GHz dari Asus yang komponennya hampir serupa. Selain kemampuan grafis, kinerja Sahitel SP703 cukup layak disebut baik. Nova Lite unggul dalam hal grafis karena menggunakan chip ATi RV620LE (HD3450) yang memang berada di atas kelas chip Intel 945G.

Pengujian

Sahitel SP703

Asus Nova Lite PX24

Sysmark 2007
42
40
PCMark Vantage
1373
1173
3DMark 2006
212
1449
Cinebench
1502
1060
Encoding Video

47 menit 35 detik

50 menit 26 detik
Encoding Audio

8 menit 46 detik

6 menit 4 detik
Spesifikasi SAHITEL SP703
Prosesor

Intel Dual Core T2370

(1,73GHz, L2 1MB, FSB 533MHz)
RAM

Referensi

2GB, DDR2

Kompas.com

Baca Selengkapnya......

MSI VR220, Notebook 12,1 Inci

On Senin, Maret 09, 2009 0 komentar
Tampilannya terlihat kokoh. Dari samping juga terlihat tidak terlalu tebal. Bobotnya tanpa adaptor 1,824kg. Ditambah adaptor dan kabel, total Anda akan membawa-bawa 2,216 kg – lumayan ya? Maklumlah, MSI VR22 ini paduan antara netbook dan notebook. Maka layarnya 12,1”, lebih lebar dibandingkan netbook, tetapi kalah lebar dibandingkan notebook umumnya.

Warna casingnya hitam mulus, tetapi jika kita buka layarnya akan tampak panel keyboard yang berbingkai warna silver. Kurang padunya warna ini terkesan agak aneh – walaupun ada merek lain yang juga menggunakannya. Namun bingkai hitam pada layar LCD memang menyebabkan layar terlihat lebih menonjol.

Tombol On/Off dan ECO

Agak beda dengan kebiasaan, tombol on/off ditempatkan di bagian tengah atas, tepat di bawah layar Wide LCD-nya yang 12”. Penempatan tombol on/off ini memudahkan akses. Pada kondisi menyala, tombol on/off akan berwarna biru terang.

Sejajar dengan tombol on/off, tepatnya di sisi kirinya, terdapat tiga tombol lain dan tiga LED. Tombol paling kiri berlabel P1, tombol sebelahnya P2, dan tombol yang terletak paling dalam memamerkan icon koneksi nirkabel (Wi-Fi). Tombol P1 adalah yang paling penting, karena merupakan tombol yang membuat hidup kita semakin nyaman. Tombol ECO ini menawarkan lima modus penghematan daya: Gaming, Movie, Presentation, Office, dan Turbo Battery. Pilihlah Turbo Battery jika ingin mendapatkan daya tahan batere yang panjang.

Sementara itu tombol P2 digunakan untuk mengaktifkan/mematikan fungsi Webcam yang fisiknya terpasang di tengah panel atas layar, lengkap dengan jajaran lubang mikropon. Jika aplikasi Camera Record Renderer sudah dipasang, kita bisa merekam kegiatan di depan Webcam sebagai klip video dalam format AVI pada resolusi 640x480.

Tersedia opsi untuk membatasi rekaman Webcam selama 10 detik. Selain itu brightness, contrast, hue, saturation, sharpness, gamma, white balance, gain dapat diatur. Hasil rekamannya bagus, jernih, dengan warna yang cukup akurat. Namun bila di-zoom sampai selebar layar, tampilan tampak kurang solid. Selain itu suara yang diambil via mikropon internal di sisi Webcam kurang kuat terekam.

Speaker Kurang Nyaring

Speaker berada di sisi kiri dan kanan wilayah tombol ini, melebar sepanjang keyboard. Suara yang dikeluarkan bervariasi, tergantung sumber. Adakalanya musik MP3 kami terdengar kurang kuat, kendati sudah disetel pada volume tertinggi, 100%, melalui Windows Media Player. Namun suara Katon yang melantunkan lagu Negeri Di Awan terdengar keras dan cukup baik. Lain halnya dengan sebuah DVD lama. Film yang dibintangi oleh Richard Gere dan J.Lo, Shall We Dance?, bahkan masih terdengar sayup-sayup saat diputar pada volume maksimal.

Keyboard dan LCD Lebar

Karena fisiknya lebar, keyboard pada notebook ini juga cukup lebar ukurannya, full-sized. Jarak antartombol lebar sehingga keyboard enak dipakai untuk mengetik, kendati kita harus menekan agak keras di sini, dan mendengarkan bunyi tak-tik untuk setiap tombol yang ditekan. Untungnya touchpad-nya yang luas nikmat: cukup mulus. Sayang kedua tombol di bawah touchpad itu juga perlu tekanan agak kuat.

Layar 12,1”-nya cukup terang dan jelas pada resolusi 1280x800. Sudut pandang vertikalnya baik, tetapi dipandang dari arah samping layar akan tampak agak redup dan terlihat efek pantulan.

Kiri, Kanan, Depan, Belakang

Dari sisi kelengkapan, VR220 ini lengkap. Di sisi kanan ada masing-masing satu lubang untuk security lock, port VGA, port RJ45, dan port USB. Di sisi kanan paling depan terdapat DVD Multi Drive, yang bisa digunakan untuk menulisi CD-R/CD-RW maupun membaca keping DVD.

Sisi kiri menampilkan urut dari arah belakang: jack DC-in, kisi-kisi ventilasi, port antena untuk TV tuner (digital), port USB, jack RJ11, port USB, dan 3-in-1 card reader. Card reader ini bisa menerima tiga jenis kartu: Secure Digital (SD), MMC (multimedia card), dan MS (Memory Stick).

Saat kami coba, kartu SD yang kami selipkan tidak semuanya masuk ke dalam slot; tersisa sedikit di luar slot. Card reader ini menggunakan sistem pegas, jadi untuk mengeluarkan kartu kita tinggal menekan kartu ke arah dalam, dan kartu akan didorong ke arah luar.

Di atas card reader tampak sebuah penutup karet yang sayangnya tidak bisa dibuka. Namun menilik ukurannya, kemungkinan itu adalah slot untuk ExpressCard. Sebenarnya masih ada satu penutup karet yang juga tidak bisa dibuka, yakni yang diapit oleh port RJ11 dan port USB. Yang ini kelihatannya adalah port HDMI.

Di arah depan sisi kanan, terlihat dua jack. Yang letaknya dekat lokasi touchpad adalah jack mikropon dan tepat di sebelahnya adalah jack untuk headphone. Di ujung paling kanan hadir empat LED, masing-masing mengindikasikan status Sleep, Batere, Wireless, dan Akses Harddisk (warna hijau).

Bagian belakang notebook ini bersih dari pernak-pernik.

Kinerja

Notebook 12” ini dimotori oleh Intel Pentium T3200 2GHz dengan memori 2GB. Hasil uji 3Dmark 2006-nya 604, tidak spektakuler. PCMark Vantage pun mencatatkan skor 2569, yang sedikit di bawah rata-rata ultraportabel umumnya. Namun untuk menunjang kegiatan sehari-hari notebook ini termasuk mumpuni. Bisa diajak multitasking – mengetik dengan MS Word, berselancar via Wi-Fi dengan MS Internet Explorer sambil mendengarkan musik dari DVD – tanpa menyebabkan hang. Dipakai main game pun oke.

O ya, MSI VR220 mengemaskan harddisk Western Digital 160GB (bisa di-upgrade sampai 320GB). Kinerja harddisk gegas: kami tuntas menyalinkan 13,9GB data (4001 file dalam 417 folder) dari USB flash disk Kingston DataTraveler 150 32GB ke harddisk MSI VR220 dalam tempo 11 menit 23 detik. Ini berarti laju transfer 20,84MB/s.

Sementara itu baterenya yang tipis nan langsing itu disebutkan berkekuatan 2800mAh, 14,4V. Tidak heran jika daya tahan batere agak minim, hanya 47 menit, saat diuji dengan Battery Eater 05.

***

Jika menilik skor ujinya (lihat tabel), MSI VR220 ini cocok disebut sebagai notebook value. Fasilitas dan kinerjanya di atas netbook, tetapi tidak bisa menyamai notebook kelas atas. Ukurannya lebih kecil dari notebook (kecuali Dell Inspiron Mini 12), tetapi lebih besar dibandingkan netbook.

Wiwiek Juwono

PLUS: Layar dan keyboard lebar; fisik tipis; tombol ECO; port modem dan LAN.

MINUS: Keyboard kurang empuk; daya tahan batere.

SKOR PENILAIAN

(maksimal 5)
Kinerja: 4
Fasilitas: 4
Penggunaan: 4,1
Harga: 4
SKOR TOTAL: 4,02
Hasil Uji

Sebenarnya kami ingin membandingkan MSI VR220 ini dengan Dell Inspiron mini 12 yang sama-sama berlayar 12,1”. Namun ini tidak adil mengingat Dell menggunakan prosesor Intel Atom Z530 (Silverthorne) 1,6GHz, sedangkan milik MSI adalah Intel Pentium Dual CPU T3200 2GHz.

Karena itu, kami memilih untuk membandingkannya dengan Lenovo IdeaPad G430 yang prosesornya sama. Ini kendati layar Lenovo lebih lebar, 14,1”, dan memorinya lebih kecil (1GB). Jika ditilik dari hasil ujinya, skor-skor MSI – kecuali daya tahan batere - sedikit unggul dibandingkan Lenovo.

Uji

MSI VR220 (Intel Pentium Dual CPU T3200 2GHz, RAM 2GB, Intel GMA 4500MHD, 12,1”, Win Vista Ultimate)

Lenovo IdeaPad G430 (Intel Pentium Dual CPU T3200 2GHz, RAM 1GB, Intel GMA X4500 , 14,1”, Win Vista Home Basic)

Kinerja


Cinebench R10
3568 CB-CPU
3491 CB-CPU

4 menit 7detik
4 menit 13 detik
PCMark Vantage
2569
2169
Membuat video
170
34
Encoding Video
19 menit
19 menit 24 detik
Encoding Audio
3 menit 31 detik
3 menit 38 detik
3DMark 2006
604
631
Daya Tahan Batere


Memutar HD Video
1 jam 25 menit 57 detik
1 jam 42 detik
Battery Eater 05
47 menit 3 detik
1 jam 3 menit
SPESIFIKASI MSI VR220
Prosesor : Intel Pentium Dual CPU T3200 2GHz

RAM : DDR2 667 2GB (maksimal 4GB)

Chipset : Intel GL40 + ICH9M

Kartu grafis : Mobile Intel 4 Series Express (GMA 4500M)
Kartu Suara : Realtek High Definition Audio (ALC888)

Harddisk : WDC WD1600BEVT-22ZCT0 160GB

Optical drive : DVD Super Multi Optiarc AD-7560S ATA

Fasilitas : LAN, Wi-Fi 802.11 b/g/n, Bluetooth, 3-in-1 card reader (SD/MMC/MS), 3 USB, kamera Web 1,3MP, port VGA, jack mike, jack headhone, modem

Layar : 12,1" WXGA 1280x800 pixel

Sistem Operasi : -

Batere : Li-Ion 14,4V 2800mAh

Dimensi : 30,3x23,1x (2,4 - 3,0) cm

Bobot (termasuk batere 4-cell): 1, 824kg

Garansi : 1 tahun (batere, suku cadang, ongkos)

Situs Web : www.msi.com.tw
Baca Selengkapnya......

Ion P8400DL, Halus Dibelai

On Senin, Maret 09, 2009 0 komentar
Sebuah netbook awalnya diciptakan untuk menangani tugas yang tidak terlalu berat. Tujuan utamanya adalah memungkinkan penggunanya untuk nge-net di mana saja dan kapan saja. Karena itulah fitur Wi-Fi (802.11) adalah fitur wajib di sebuah netbook, selain tersedianya port untuk jaringan (LAN). Tidak ada satu pun netbook yang tidak menyertakan kedua fitur ini.



Maka adanya tambahan—berupa port modem—menjadi cukup menyenangkan pada Ion P8400DL yang dibesut oleh Metrodata e-Bisnis ini. Ya, sebuah port modem (RJ-11) terlihat hadir di sisi kanan unit, diapit oleh port LAN (RJ-45), dan port USB. Nge-net pun tidak terbatas pada tersedianya fasilitas hotspot atau jaringan di sebuah lokasi.

Adanya pilihan untuk nge-net via modem dial-up ini bermanfaat khususnya ketika kita berada di lokasi yang belum menyediakan fitur hotspot atau koneksi HSPA atau yang biaya koneksi via jaringan seluler masih kurang terjangkau kantong, misalnya di daerah.

Alhasil fitur koneksi pada Ion P8400DL ini sungguh lengkap. Untuk nirkabel tersedia Bluetooth 2,4GHz dan Wi-Fi (802.11 b/g). Untuk koneksi berkabel ada tiga port USB yang disebar di sisi kanan dan kiri unit, port LAN, dan juga port modem.

Eh, sebelum kita membahas netbook Ion P8400DL lebih detil, yuk kita cermati dulu fisiknya.

Halus saat Dibelai
Pertama-tama kita lihat dulu tampilannya. Sebab zaman sekarang tampilan sangat penting, apalagi bila netbook itu sering kita 'pertontonkan', eh maksudnya pakai di tempat umum seperti kafe. Bangga bukan bila orang melirik netbook kita akibat tampilannya yang—menyitir iklan 3—cuakep, cuakep, cuakep. Nah dalam hal kecakepan, Ion P8400DL ini dapat diandalkan.

Lihatlah casing-nya yang hitam pekat dan mengilat itu. Casing ini pun tidak tampil polos seperti kebanyakan netbook saat ini. Sudah ada pola penghias di sana, yang bisa dipilih antara pola bee hive alias ala sarang lebah, dan pola bergelombang (pattern waves). Jadi kita tidak perlu repot-repot menambahkan skin lain untuk membuat netbook ini tampil menonjol.

Casing atas ini halus bila dibelai, dan pola-pola yang tergambar di sana pun halus, karena pola tersebut memang dibuat secara khusus dengan teknik in mold roller (IMR). Teknik injeksi gambar ini menyebabkan gambar dan juga casing secara keseluruhan terlihat menyatu sekaligus mewah. Gambar pun konon tidak akan luntur kendati digosok dengan kain lap, atau bergesekan dengan tangan.

Kemulusan teknik IMR ini juga terlihat membingkai layar LCD Ion P8400DL yang selebar (diagonal) 10,2 inci itu. Namun, cover casing panel keyboard dan juga bagian belakang netbook ini tidak menerapkan teknik IMR yang kabarnya mahal itu.

Alhasil panel keyboard, termasuk bagian palmrest, dan seluruh bagian belakang netbook yang juga berwarna hitam terlihat agak bertekstur. Terasa agak kasar saat disentuh dengan ujung jemari. Namun, ini sebenarnya membawa berkah. Sebab palmrest menjadi tidak cepat kotor akibat rajin mengumpulkan sidik jari pemegangnya, seperti yang terjadi pada casing atas netbook. Netbook pun lebih nyaman dan aman dipegang karena tidak licin.


Kiri dan Kanan Padat, Depan dan Belakang Lega
Mari kita sudahi perbincangan tentang kemulusan Ion P8400DL. Kita alihkan perhatian pada fasilitas fisiknya. Kita mulai dari sisi kiri unit dulu ya. Di sisi ini terlihat berjajar dari belakang ke arah depan kisi-kisi ventilasi, dan masing-masing sebuah jack DC-in, port VGA-out, port USB, dan jack mikropon serta jack headphone.

Sementara itu sisi kanan memamerkan—juga urut dari arah belakang ke depan unit—sebuah lubang security lock, port RJ-45 (LAN), port RJ-11 (modem), dua port USB, dan sebuah 3-in-1 card reader. Card reader ini bisa menerima tiga tipe kartu memori: Secure Digital (SD), Multimedia Card (MMC), dan Memory Stick (MS).

Di bagian belakang unit tidak tampak apa pun. Bagian belakang unit ini memang didedikasikan untuk tempat kompartemen baterai.

Namun di bagian depan unit, tepatnya di panel keyboard bawah sisi kiri terlihat jajaran empat LED. Keempatnya diberi label icon pengenal. LED yang paling kiri adalah LED power yang akan berwarna orange saat baterai diiisi ulang. Tepat di sebelah kanannya adalah LED yang mengindikasikan aktif/tidaknya numeric keypad. Berikutnya adalah LED indikator Caps lock, dan yang terakhir adalah LED status Wi-Fi/Bluetooth. Ketiga LED ini akan memancarkan warna biru terang saat aktif.

Webcam Perlu Cahaya, tapi LCD-nya Jernih
Yuk kita buka cover-nya. Begitu cover dibuka mata kita akan langsung tertumbuk pada sebuah lingkaran kecil yang berada tepat di tengah bingkai panel LCD. Inilah Webcam dengan resolusi 1,3 megapixel. Untuk mengaktifkannya, Metrodata sudah menyediakan sebuah aplikasi khusus bernama Ampcap. Jadi untuk bernasis-ria, kita tinggal mengaktifkan aplikasi dan mulai bergaya di depan webcam tersebut.

Eh sebenarnya tidak tepat begitu juga jika Anda ingin merekam hasilnya sebagai klip video. Jika aksi narsis-ria itu ingin direkam, kita harus menentukan dulu lokasi penyimpanan, nama file, dan juga apakah kita akan membatasi durasi perekaman dalam besaran file. Nah bila semua sudah dilengkapi, tekanlah pilihan Start to Record dan mulailah bergaya di depan kamera.

Saran kami, gunakan webcam di tempat yang pencahayaannya cukup baik. Juga jangan mengambil subyek yang berada terlalu jauh dari lokasi duduk Anda. Tampilan tentu boleh direkam, dalam bentuk klip video.

Anda boleh saja bergerak-gerak saat itu, jangan pedulikan tampilan layar yang terlihat agak terlambat mengikuti gerakan Anda itu. Kelak bila hasil rekaman diputar ulang, gerakan cepat Anda akan terlihat mengalir mulus, tidak terputus-putus seperti saat rekaman diambil.

Saat mencobanya di dalam ruangan, kualitas gambar rekaman kami cenderung tampil gelap dan—mungkin karena subyeknya agak jauh dari kamera—kurang fokus. Warna-warna juga tidak tampak seindah aslinya.

Kendati hasil rekaman webcam kurang memuaskan, kami kagum dengan kejernihan layar LCD Ion P8400DL ini. Gambar-gambar dan foto, termasuk yang diambil dengan kamera digital, terlihat begitu jernih dan memikat saat ditayangkan di layar yang mengusung resolusi 1.024 x 600 pixel itu. Dilihat dari samping pun, tampilan masih enak dilihat.

Nikmatnya Tombol Touchpad
Layarnya jenih, tapi bagaimana dengan keyboard? Karena panjang netbook ini 25,1cm ukuran fisik keyboard di sini termasuk wajar dan lengkap untuk ukuran netbook berlayar 10,2 inci ini. Selain keyboard QWERTY, di deretan paling atas panel keyboard terlihat jajaran tombol F1 - F11. Tombol-tombol ini ditandemkan dengan beberapa fungsi lain, yang pengaktifannya menuntut penekanan Fn. Ini misalnya untuk mengaktifkan Wi-Fi (Fn-F2). Tombol untuk F12 juga tersedia, tetapi menyatu dengan F11. Jadi untuk menggunakan F12, kita harus menekan kombinasi Fn-F11. Dibandingkan tuts QWERTY, tuts-tuts untuk fungsi Esc, ~, F1-F11, PgUp, PgDn, Ins, dan Del berukuran lebih kecil.

Menarikan jari-jemari di atas tuts-tuts keyboard ini menyenangkan. Tuts-tutsnya cukup empuk saat ditekan, kendati tetap saja diiringi dengan bunyi tak-tuk yang untungnya tidak terlalu nyaring. Cuma dalam pendengaran kami, tombol Space mengeluarkan suara yang cukup mengganggu, apalagi ketika kita harus sering menekan-nekannya.

Sebuah touchpad lengkap dengan dua tombol klik tampil di bawah panel keyboard. Touchpad-nya sendiri menggelincir cukup presisi. Sementara itu, kedua tombol klik di bawah touchpad yang berwarna silver itu menambah kenikmatan karena empuk saat ditekan. Sayangnya kenikmatan menggunakan touchpad agak ternoda oleh terdengarnya suara yang cukup kuat ketika kami menekan touchpad.

O ya, di palmrest sebelah kiri tampak sebuah lubang kecil bergambar mikropon. Ya, di situlah mikropon internal ditempatkan oleh Metrodata. Di bawah palmrest, dipasang sepasang speaker. Kualitas suaranya memadai.

Namun, saat menyandarkan telapak tangan di palmrest ini dalam jangka waktu agak lama, kami merasakan jalaran panas, khususnya di sisi kanan. Sengatan panas ini juga terasa di tuts keyboard bagian kanan, dan bagian bawah netbook sebelah kanan.

Karenanya, jika Anda bermaksud menggunakan netbook ini dalam waktu agak lama, kami sarankan Anda untuk meletakkannya di atas meja. Atau jika ingin memangkunya, gunakan alas yang cukup tebal atau meja komputer portabel yang bisa menyerap panas. Meja lipat ringan yang terbuat dari aluminium ini bisa dibeli secara terpisah di toko-toko komputer.

Kinerja
Agak beda dengan kebanyakan netbook yang pernah kami uji, Ion P8400DL ini datang ke tempat kami dengan sistem operasi Microsoft Windows Vista Starter Edition. Alhasil dukungan prosesor Intel Atom N270 1,6GHz yang ditunjang RAM 1GB (maksimal) kurang mampu mengimbangi kinerja Vista. Booting pun—akibat Vista—terasa lambat, membutuhkan waktu sekitar 1 menit 20 detik.

Jika menilik hasil uji benchmark Cinebench R10 yang menorehkan skor 830, dan 3DMark 2006 yang 138, netbook ini yang dipersenjatai chipset grafis Intel GMA950 ini memang kurang cocok dipakai bermain grafis kelas berat. Namun untuk tugas-tugas umum dan khas netbook, Ion P8400DL cukup mumpuni. Berselancar di internet misalnya. Atau mengetik dengan menggunakan aplikasi pengolah kata atau menggunakan aplikasi suite lainnya. Dipakai untuk memutar lagu juga mampu. Main game, selama game tersebut tidak menuntut kecepatan/refresh rate yang cepat pun masih oke.

Kapasitas Baterai Minim
Metrodata melengkapi netbook-nya dengan kemasan baterai Li-Ion 11,1V dengan kapasitas 'hanya' 2.600 mAh. Kapasitas ini relatif kecil sehingga tidak mengherankan jika daya yang disediakannya tidak dapat bertahan lama.

Ketika kami menggunakannya untuk memainkan beberapa game bawaan Vista dan juga mengetik ulasan ini, dalam tempo satu jam daya baterai terkuras 65 persen dan—menurut klaimnya—hanya akan bertahan 46 menit lagi. Kondisi ini terjadi saat kami memilih skema daya Power Saver demi menghemat daya baterai yang berdampak pada penurunan kinerja.

Maka ketika daya baterai—yang sudah diisi penuh—di-benchmark dengan software Battery Eater 05, kami pun tidak terkejut melihat hasilnya yang 1 jam 43 menit. Begitu pula ketika dipakai untuk memutar video HD, baterai bertahan 1 jam 25 menit.

Ada sedikit catatan tentang adaptor yang disertakan Metrodata. Pada unit uji kami, colokkan kabel ke jack DC-in kurang pas dudukannya sehingga mudah terlepas saat tersenggol. Colokan kabel bercabang tiga yang masuk ke adaptor pada unit uji kami pun harus didorong kuat-kuat agar asupan listrik dari jala-jala listrik bisa mengalir masuk ke baterai. Jika tidak, sia-sia saja Anda memasang adaptor untuk mengisi ulang daya baterai. Dan ini sempat kami alami.

Jika semua colokan—ke adaptor maupun ke netbook—terpasang mantap, pengisian ulang baterai Li-Ion untuk P8400DL ke kondisi 100 persen akan tercapai dalam waktu 2 jam 48 menit 17 detik.

***

Jika Anda mencari sebuah netbook yang tampil cukup menarik, Ion P8400DL besutan Metrodata dapat dimasukkan dalam daftar belanja Anda. Apalagi jika Anda seorang yang menyukai segala sesuatu buatan lokal, maka netbook lokal ini semakin layak Anda lirik. Fitur koneksi nirkabel dan kabelnya lengkap, mulai dari Bluetooth, Wi-Fi, sampai LAN, dan modem internal.

Di dusnya, tercantum bahwa netbook Ion P8400DL dipaketkan dengan sistem operasi FOS. Namun tersedia opsi sistem operasi lain yang dapat dibeli secara terpisah, yakni Windows Vista Starter. Jika memilih bundel Windows Vista Starter, Anda harus merogoh kocek 435 dollar AS sebelum dapat membawa pulang Ion P8400DL. Namun jika Anda lebih suka Linux, cukup dengan 400 dollar AS Anda bisa mendapatkan netbook ini.


PLUS: Layar jernih; modem internal dial-up; tombol touchpad empuk.

MINUS: Baterai minim; memori maksimal 1GB. (*)


Hasil Uji
Jika dibandingkan Lenovo IdeaPad S10 yang spesifikasi prosesor, memori dan chip grafisnya setara, kinerja Ion P8400DL tidak terpaut terlalu jauh, kecuali dalam hal daya tahan baterai.

Uji

Ion P8400DL (Intel Atom N270 1,6GHz, RAM 1GB, Intel GMA950, 10,2”, Win Vista Starter)

Lenovo IdeaPad S10 (Intel Atom N270 1,6GHz, RAM 1GB, Intel GMA950, 10”, Win XP Home SP3)

Kinerja
Cinebench R10
830 CB-CPU
815 CB-CPU

17 menit 45 detik

18 menit 4 detik
Encoding Video

1 jam 1 menit 32 detik

58 menit 56 detik

Encoding Audio

14 menit 21 detik

14 menit 25 detik

3DMark 2006
138
-

Daya Tahan Baterai

Memutar HD Video

1 jam 25 menit 57 detik

1 jam 50 menit 6 detik

Battery Eater 05

1 jam 43 menit

2 jam



SKOR PENILAIAN
(maksimal 5)
Kinerja: 3,8
Fasilitas:4,1
Penggunaan: 4
Harga: 4
SKOR TOTAL: 3,97


SPESIFIKASI Ion P8400DL
Prosesor : Intel Atom N270 1,6GHz
RAM : DDR2 667 1GB (maksimal 1GB)
Chipset : Mobile Intel Calistoga-GME i945GME
Kartu grafis : Intel GMA 950
Kartu Suara : Realtek ALC662
Harddisk : Fujitsu MHZ2120BH (120 GB, 5400RPM, SATAII)
Optical drive : -
Fasilitas : LAN, Wi-Fi 802.11 b/g, modem dial-up, Bluetooth, 3-in-1 card reader, 3 USB, kamera Web 1,3MP, port VGA, jack mike, jack headhone
Layar : 10,2" 1024x600 pixel
Sistem Operasi : FOS
Batere : Li-Ion 11,1V 2600mAh
Dimensi : 25,1x18,4x2,8 cm
Bobot (termasuk batere 3-cell): 1, 18kg
Garansi : 1 tahun (batere, suku cadang, ongkos)
Situs Web : www.ion.co.id
Harga kisaran*: US$ 435 (Windows Vista Starter); US$ 400 (Linux)
*Metrodata e-Business


referensi : Kompas.com

Baca Selengkapnya......
Grab this Widget ~ Blogger Accessories

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional

Tulisan Terbaru

isine